DARI YETI UNTUK BUNDA
kasih ibu
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
IBU Ah, tiga huruf yang menghadirkan sebuah khayalan tentang masa-masa indah, penuh manja, tawa tangis sekaligus mengingatkan pada sosok luar biasa yang sengaja Allah ciptakan untuk aku, kau dan mereka..
Sejak dulu, aku sudah begitu mengagumi sosok luar biasa yang disebut Bunda/ibu. Itu sebab, berbagai kisah lucu hingga sedih pun menjadi catatan tersendiri dikepala yang sedikit demi sedikit ku tuliskan untuk dibagi.
Siang ini tepat tanggal 21 Desember 2011 sehari sebelum hari ibu, tiba-tiba sekelebat bayang bunda melintas. Padahal baru saja malam itu aku menelponnya, menanyakan bagaimana kabarnya, menanyakan dia sedang apa, lalu bercanda yah layaknya anak dan ibu lah. namun entahlah, kini pun aku sudah sangat merindukannya. Sangat.
Banyak tulisan yang menumpuk tentangnya di buku dan laptopku, tapi sekarang aku ingin membagi satu masa dalam hidupnya. Sebuah fase di mana kesabarannya sebagai seorang hamba benar-benar diuji. Jikalaulah tak ada iman, mungkin lain cerita sekarang. Bisa jadi aku tidak di sini sekarang dan merenda tulisan ini. Tapi tidak, bundaku memilih tegar, bukan menyerah ataupun pasrah. Aku begitu mencintai dan menghormatinya…
Bunda tak pernah mengajari aku dan adik tentang apa itu kebencian, apa itu amarah. Sama seperti ia tak pernah mendidik aku untuk membenci dan mudah marah. Maka tiap pahit yang ia tuai dalam hidupnya, tak pernah ia membaginya dengan aku maupun adik –kecuali jika memang kami melihatnya sendiri-. Jika dulu jejak masa lalunya diisi dengan kedengkian dan kejahatan orang-orang terdekat, maka bunda tak mengijinkan kami tahu. Ia tak ingin aku dan adik turut sakit hati dan membenci mereka yang menyakiti. Bunda tetap membiarkan kami tumbuh layaknya kertas putih yang tak patut dinodai dengan tinta dendam dan benci.
Aku ingat, waktu aku masih di bangku sekolah dan mulai mencintai mengambar karena memang betul dulu aku adalah seorang gadis yang begitu sangat hobi mengambar. Ya mengambar apa saja yang ada dibenakku, seolah gambaran itu pun mewakili daya imajinasi ku, bunda mengelus pundak ku pelan. Dia tertegun lama melihat gambar yang berserakan dengan coretan cat warna kayu di atas lantai yang seolah mewakili perasaan ku yang waktu itu hanya ku gambarkan pada kertas AVS bekas, yang dibaliknya ada surat bekas ntah berisi apa milik ayah. Sepertinya ia ingin bicara sesuatu, tapi mendadak bibirnya mengatup setelah sesaat sebelumnya hampir menguak kata. Aku tak tau apa yang hendak bunda ucapkan saat itu.
Lalu saat september tahun lalu aku pulang ke Subulussalam dari Banda Aceh –waktu itu aku masih semester 1 di Akademi- dengan mengenakan jilbab memakai baju lengan panjang dan rok hitam, samar tapi pasti titik air mata ku lihat mengapung di bola mata bunda. Ntah apa yang ada dibenak bunda sa’at itu.. namun di raut wajahnya ku lihat binar wajah yang bahagia menjambut kedatangan ku seolah tak ada kata pisah setelah pertemuan ini.
Kuhabiskan beberapa hari di rumah waktu itu, dan selama itu pula bunda tak henti menatapku. Pandangan sama yang bunda pancarkan saat ia mengamatiku dulu. Aku berharap bunda tak menutup bibirnya lagi kali ini, dan ya! Bunda memang tak mengatupnya. Ia biarkan sepotong masa lalu menyembul dari sana. Agak ragu, tapi akhirnya mengalir jua.
“Yet, masa sembilan bulan mengandungmu adalah masa berat yang bunda punya. Waktu itu rasanya bunda adalah pusaran samudera yang harus siap menelan semua arus pahit hidup”, bulir hangat mulai terjun menyusuri pipi bunda. Aku mengusapnya seraya diam, kudengarkan bunda melanjutkan apa yang ingin ditumpahkannya.
“Ya Rabbana, jadikan anak yang ada dalam kandungan hamba ini menjadi seorang yang berlidah gatal tuk menyampaikan kebenaran, dan jemari yang sama gemas tuk menggoreskan kebenaran. Jadikan ia anak yang bisa dan berani bersuara dengan apa yang dia punya, tidak seperti hamba…” lanjut bunda mengulang sepotong masa lalu, kala itu kata bunda aku belum lahir.. usia ku di dalam rahim bunda masih sekitar delapan bulan.waktu itu aku ingat kata nenek ku.. waktu aku lahir ayah ku tak ada di samping bunda.. ayah ku tak menunggu ku di dekat bunda untuk menyambutku di bumi indah milik Allah ini. Namun kata nenek ayah ku begitu khawatir terhadap aku dan bunda.. kekahwatirannya menanti aku lahir sebagai putri pertama pun menjadikannya menelpon terus menerus adik bunda ku.. dengan menggunakan telpon milik kantor.. karena pada masa itu ayah ku tak punya telpon genggam seperti sekarang ini. Yang Alasan membuat ku kini terharu.. ayah bertugas di luar kota.. beda kota dengan bunda, nenek dan saudara-saudar lainnya tinggal. Dan sa’at itu ayah ku sedang sibuk-sibuknya bekerja dengan begitu banyak tugas kantor yang harus diselesaikannya..
Tiba-tiba bunda menarikku dalam pelukannya. Di bahunya yang menggugu, kudengar isaknya yang lirih… “Harapan bunda tercapai nak, tangan dan suaramu semoga selalu bisa menyampaikan kebenaran. Tetaplah berkarya dan berdakwah…. BUNDA BANGGA MEMILIKIMU….!“
Tak ada yang bisa kuucap saat itu, hanya tekad membulat tuk menjadi kebanggaannya dan mengantarkannya ke surga dengan amal sholihku…. Sudah begitu banyak pengorbanan bunda.. yang seharusnya tak ku balas dengan sifat malas dan keras kepala yang aku punya.
ah bunda, seandainya tak ada engkau di dunia ini, pastilah aku tak akan pernah terlahir ke dunia ini. bunda, engkau yang telah melahirkan diri ini ke dunia. engkau telah berkorban jiwa dan raga hanya untuk melahirkan seorang anak bernama aku. bunda, engkau mengandung sembilan bulan lamanya. tidak mudah, sungguh tidak mudah pengorbananmu itu. belum lahir diri ini ke dunia sudah sangat memubuat engkau kerepotan. terlebih setelah diri ini muncul ke permukaan. lebih-lebih penderitaanmu. entah berapa banyak malam-malam yang engkau korbankan karena tangis ini. entah berapa banyak gerai tangis yang terjadi akibat kenakalan ini. tapi selalu itu yang engkau berikan, kesabaran dan kasih sayang yang tak terhingga.
dan kini setelah dewasa, apa yang kami lakukan padamu?! diri ini malah banyak membantahnya ketimbang menuruti apa yang engkau perintahkan. bukan karena perintahmu itu adalah perintah yang buruk, tapi karena diri ini belum sadar bahwa belum ada secuilpun perbuatan untuk membalas jasa-jasamu itu.
duh bunda, harus bagaimana diri ini membayar semuanya itu?!
Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu ibu
Ada kehangatan di dalam hatiku
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu ibu
Ada kehangatan di dalam hatiku
Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci selalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya
Ayat suci selalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya
Oh ibuku engkaulah wanita
Yang ku cinta selama hidupku
Maafkan anakmu bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Yang ku cinta selama hidupku
Maafkan anakmu bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci selalu dikumandangkan
Ayat suci selalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya
Berdoa untuk putra putrinya
Oh ibuku engkaulah wanita
Yang ku cinta selama hidupku
Maafkan anakmu bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Yang ku cinta selama hidupku
Maafkan anakmu bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah ia kebahagiaan
Di dunia juga di akhirat
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah ia kebahagiaan
Di dunia juga di akhirat
(SAKHA_IBU)
Pertanyaan :
1. Sudahkah kita berterima kasih kepada ibu kita, atas semua perhatiannya??
2. Kapan terakhir kali kita menghubungi ibu kita ?
3. Kapan terakir kali kita menanyakan kabar ibu kita ?
4. Kapan terakhir kali kita membuat hati Ibu kita bahagia ??
5. Kapan terkhir kali kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita bersyukur telah menerima bidadari yang begitu
sempurna?
1. Sudahkah kita berterima kasih kepada ibu kita, atas semua perhatiannya??
2. Kapan terakhir kali kita menghubungi ibu kita ?
3. Kapan terakir kali kita menanyakan kabar ibu kita ?
4. Kapan terakhir kali kita membuat hati Ibu kita bahagia ??
5. Kapan terkhir kali kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita bersyukur telah menerima bidadari yang begitu
sempurna?
ASRAMA 21 Des. 11. By: Yeti Maslianda’92 "BUNDA teruslah menjadi istri yang sholehah bwt ayah, menjadi ibu yang sabar dan bijak bwt aku dan adik, menjadi wanita tangguh dan dermawan bwt mereka yg membutuhkan!"

Komentar
Posting Komentar