DIALOG DI PANTI JOMPO
Di sebuah panti jompo, pagi itu nampak sedikit riuh. Setelah
senam tera, senam khusus manula selesai, para penghuni bersantai sambil minum
susu dan makan roti. Diantara mereka ada yang duduk bergerombol, ada yang
merenung sendiri di atas kursi roda, ada juga yang masih sedikit melenturkan
tubuh, semampunya, mencari keringat dengan gerakan-gerakan kecil.
Di sudut taman, terdapat bangku kayu panjang yang diduduki 3
orang wanita manula. Mereka berusia sekitar 70an tahun. Sambil makan sarapan,
mereka saling bercerita tentang anak-anaknya. Percakapan dimulai dari nenek
Dewi. Perempuan bertubuh tambun dan masih suka berdandan serta memakai baju
olah raga berupa setelan training mahal itu dengan berapi-api begitu bangga
menceritakan kedua anaknya yang sukses hidupnya.
“anak saya yang pertama. Nico, hebat sekali. Dulu kuliahnya
di New Tork dan sekarang dia sukses menjadi CEO Metropolis TV. Tahu kan jeng?
TV swasta besar di sini. Dia sudah menikah dan punya dua anak kembar yang
lucu-lucu. Istrinya juga wanita karir yang sangat hebat. Menantu saya itu salah
satu direksi BUMN besar.”
Si nenek yang bertubuh sedang, berambut tipis, setengah
botak, memakai baju piyama mahal menimpali seraya bertanya, “Kalau anak kedua?”
“oh anak saya yang kedua juga tak kalah hebat. Salah satu
artis ngetop ibukota. Semua film-filmnya laris. Dia termasuk artis papan atas. Walaupun
belum menikah, dia sudah punya pacar, produser film. Yah lumayan mapan jeng. Saya
sebagai ibunya sangat bangga dengan mereka.”
“oooh begitu. Anak saya juga hebat. Yang pertama dokter
specialis mata terkenal di sini. Istrinya juga dokter ahli bedah. Lalu adiknya,
perempuan, sekarang memiliki beberapa restaurant besar di jakarta. Pokoknya mereka
sama-sama hebat. Bikin bangga orang tua sejak kecil. Di sekolahnya selalu
menduduki rangking satu semua.”
Nenek fatma, yang bertubuh sedang itu tak mau kalah bangga
dengan memamerkan kesuksesan anak-anaknya. Lalu dia melirik ke arah nenek yang
bertubuh kurus, dengan daster batik sederhana, berambut putih panjang yang
digulung, yang semenjak obrolan pagi itu terjadi hanya diam dan menatap mereka
hanya dengan senyuman kecil
Kalau jeng surti bagaimana anak-anaknya?”
Dengan senyum menegembang penuh percaya diri, nenek surti
tenang menjawab, “oh anak saya hanya satu, dia lelaki dan hanya jadi petani. Saya
sangat behagia dan bangga kepadanya. Meski hanya petani dan kehidupan dia
biasa-biasa saja. Pagi ini dia akan menejemput saya pulang, saya akan diajak
tinggal bersamanya, karena cucu-cucu saya dan menantu saya menginginkan saya
berada di tengah-tengah mereka.”
Sejenak suasana menjadi hening. Nenek dewi segera berdiri
dan berlalu dengan muka masam. Sedang nenek fatma hanya menimpalinya dengan
lenguhan kata “oooh gitu.”
Lalu dia segera menyusul nenek dewi, meninggalkan begitu
saja nenek surti yang terus tersenyu bangga, bahagia, tanpa peduli bagaimana
hati kedua temannya itu.”
-kebahagian sejati seorang ibu adalah saat keberadaanya
dibutuhkan oleh
anaknya. Bukan harta berlimpah atau sekian jabatan anaknya yang
akan membuatnya bahagia atau bangga. Namun lebih dari sebuah pengakuan, bahwa
ibu, sampai kapanpun sangat diperlukan keberadaanya, meski ia sudah tua, pikun
atau sakit-sakitan. Sebuah pengakuan, itu saja yang membuatnya senang-
Asrama putri green dormitory_@YettyMaslianda
07112012.. ibu izinkan aku membasuh kaki mu115..
Untuk bunda dan semua yang bergelar ibu di dunia ini I NEED
U.. J


Komentar
Posting Komentar