CATATAN KECIL: MEMANDANG MANUSIA SANG PENYELAMAT MANUSIA (DOKTER JUGA MANUSIA)


Tulisan ini lahir berkat inspirasiku dan banyak pertanyaan yang saat ini berselewaran di benak masyarakat.
Bisakah pasien menuntut dokternya?
Kenapa ada dokter atau pihak rumah sakit yang menuntut ketika si pasien dianggap telah menecemarkan nama baik mereka?
mengapa ada dokter yang menyenangkan dan mengapa ada yang tidak?
Bagaimana kalau saja terjadi suatu kesalahan medis akibat dokter?
Semua jawaban diatas akan ku coba bahas dari referensi serta inspirasi yang ku peroleh..

.:. Harus diakui, ada nuansa paradoksalitas yang sedang dicucurkan dan menggenagi manusia dan kemanusiaanya saat ini. Nuansa ini menghinggapi semua lapisan elemen kemanusiaan, mulai darp presepsi, argumen, tingkah laku, cara berpikir, hingga interaksi sosial. Perputaran mesin waktu dan pergeseran nilai-nilai sosial menyebabkan manusia berhadapan dengan nuansa paradoksalitas. Manusia kini berdiri di sebuah persimpangan; why mengapa because karena kita bingung anatara apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang kita lakukan, antara yang benar dan yang salah, anatara hak dan kewajiban, antara das sain dan das solen, serta anatara hidup dan mati.

Profesi dokter kini juga berhadapan dengan nuansa paradoksalitas ini. Hingga beberapa dekade yang lamapau, profesi ini dinisbahkan sebagai sebuah profesi yang amat luhur dan mulia. Profesi yang didalamnya tergenggam tugas bukan hanya sebuah tugas tapi merupakan tugas besar, yaitu meneyelamatkan manusia dan kemanusiaan lewat tugas suci kesehatan. Dulu hingga sekarang posisi dokter selalu dianggap suci dan penting serta ditempatkan pada strata sosial yang tinggi di masyarakat.

Namun akibat perputaran waktu, zaman keemasan dokter perlahan mulai terkiskis. Peran suci dokter mulai mendapat ancaman. Awal ancaman ini ditandai oleh munculnya beragam pengobatan alternatif yang dipraktikan oleh orang2 selain dokter, seperti thabib, dukun, dan paranormal. Akhirnya teori baru pun bermunculan didalam dunia medis, banyak teori yang berbasiskan bahwa penyakit tidak hanya disebabkan oleh hal2 ilmiah tetapi juga oleh hal2 yang nonilmiah. Secara perlahan kini orang2 pun mulai berani mempertanyakan tindakan pengobatan yang diberikan dokter, bahkan diantara mereka tidak sedikit banyak yang neradu argumen dan menetang dokter dalam tindakan medisnya. Tindakan dokter yang dulu dianggap “sabda” yang harus dipatuhi mulai mengalami degridasi alias kelunturan. Dokter mulai banyak diragukan, beralasan bahwa dokter si A tidak kompeten dokter si B apa lagi atau lainnya. Bukan suatu kesalahan juga apa bila ada pasien yang begitu kritis melebihi kritisnya dokter bukankah itu baik, tapi bisakah dokter bertindak leluasa ketika si pasien kerap mendiktai bahwa apa yang dokter lakukan yang begini dan yang begitu salah? Lantas dengan mudah dan cepat membeberkan unek2 yang dianggap selayaknya ditutup rapat dibiarkan terbuka agar semua orang tau.

Semuanya punya pro-kontra.. pasien bisa saja menuntut dokternya, apabila dokter benar2 melakukan tindakan kriminal seperti malpraktik layaknya. Pasien juga bisa menuntut dokter apa bila tidak adanya kepuasan terhadap pelayanan.. tapi bukankah semakin baik bila celotehan ini dsampaikan dengan cara lebih baik, agar pandanagan pelayanan medis kita yang dulunya dipandang begitu wow, namun pudar serta luntur akibat celotehan kita yang jelas namun tak beraturan

Sebenarnya pengungkapan unek2 merupakan hal yang normatif, tapi yang disayangkan tidak semua unek2 atau presepsi pasien benar dan  objektif. Ada beberapa alasan untuk hal ini:

Pertama, anatara dokter dan pasien terdapat kesenjangan bermakana menyangkut pengetahuan dan pengalaman medis.

Kedua, setiap pasien memiliki latar belakang sosial yang berbeda, sehinggal lahir pulalah argumen yang berbeda.

Sebenarnya salah satu alasan dokter memerkarakan pasien adalah karena merasa unek2 yang disamapaikan tidaklah objektif atau bahkan deskruktif. Mungkin dokter merasa telah berbuat yang terbaik untuk pasiennya tapi pasiennya justru memersepsikan hal yang sebaliknya.. hal ini muncul karena kita beranggapan kesembuhan pasien berada ditangan dokter tanpa campur tangan Allah, jelas saja masyarakat kita memandang dokter sebagai manusia sang penyelamat manusia.. tanpa melakukan kesalahan yang dianggap suatu kewajaran.. dan bila terdapat kesalahan begitu menggebu protes.. karena bagaimana pun sang penyelamat yang mampu menyebuhkan pasien adalah Allah, hanya Allah sedangkan dokter merupakan prantara yang Allah sabdakan untuk berupaya dan berusaha menyembuhkan. Ya bagaimana pun tetap saja dokter adalah manusia.


By: Yeti Maslianda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan galau mahasiswa kedokteran-Syndrome Galau Akut (SGA) part 1

BUNDA...

Muhasabah Dodol Mas Itey ^__^